Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Kota PalembangNasionalUncategorized

Ki Edi Susilo, Diplomasi Sunyi di Atas Piring: Menggali Kedaulatan dalam Sebutir Teri Pangan Nusantara

123
×

Ki Edi Susilo, Diplomasi Sunyi di Atas Piring: Menggali Kedaulatan dalam Sebutir Teri Pangan Nusantara

Sebarkan artikel ini

RelasiPublik.com,- Oleh: Ki Edi Susilo
Penikmat Kopi Hitam dengan Sedikit Gula

​”Teri itu kecil, tapi ia adalah paket kalsium yang purna. Ia mengajarkan kita bahwa yang hebat tak perlu berteriak, dan yang asli tak butuh kemasan mewah untuk menjadi bermakna.”

​Sembari menyesap kopi hitam yang mulai mendingin, saya sering merenung. Di zaman yang serba “instan” dan “impor” ini, kita sering terjebak dalam narasi superfood luar negeri yang dibungkus istilah laboratorium yang rumit.

Padahal, jika kita mau sedikit menunduk ke piring nasi, ada sebuah keajaiban bernama ikan teri. Ikan kecil yang sering dianggap sebagai “pendamping setia” nasi hangat di meja jelata ini sebenarnya adalah ijazah kecerdasan leluhur kita yang belum tuntas kita baca.

​Keajaiban dalam Satuan Mikro

​Secara anatomis, teri adalah sebuah anomali yang purna. Berbeda dengan ikan besar yang kita konsumsi secara parsial (fillet), teri menuntut kita untuk melahapnya secara utuh, kepala, tulang, hingga organ dalamnya. Di sinilah letak kemewahan sainsnya.

​Dalam dunia gizi, teri adalah “Powerhouse of Minerals”. Bayangkan, sebutir teri mengandung kalsium sekitar 500 mg hingga 900 mg per 100 gram. Ini bukan angka main-main. ia jauh melampaui susu sapi kalengan manapun dalam takaran yang sama. Tulang-tulang kecilnya yang renyah adalah sumber bioavailable calcium dan fluoride alami yang menjaga tegaknya punggung dan jernihnya daya pikir lewat kandungan Omega-3 (EPA dan DHA).

​Teknologi Tanpa Listrik: Warisan Jenius Nusantara

​Pernahkah kita bertanya, bagaimana nenek moyang kita bisa mengirimkan protein laut ke pelosok pegunungan tanpa bantuan truk pendingin atau listrik? Di sinilah “kehebatan” itu bermula.

​Leluhur kita adalah ahli Bioteknologi Tradisional. Dengan teknik penggaraman dan pengeringan yang presisi, mereka berhasil memanipulasi water activity pada daging ikan sehingga bakteri pembusuk tak mampu hidup, namun nutrisinya tetap terkunci rapat. Ini adalah teknologi pengawetan organik paling efisien di dunia yang lahir dari tangan-tangan bersahaja yang akrab dengan sinar matahari. Mereka tidak butuh label “Organik” atau “Non-GMO” dari luar negeri untuk menciptakan pangan yang berdaulat.

​Bukan Hanya Teri: Perpustakaan Gizi di Dapur Kita

​Jika teri adalah guru tentang kalsium, maka Indonesia masih punya barisan “pendekar” pangan lainnya yang sering kita abaikan.

​Tempe, Inilah mahakarya fermentasi dunia. Lewat jamur Rhizopus oligosporus, leluhur kita mengubah kedelai yang keras menjadi protein yang jauh lebih mudah dicerna dan kaya vitamin B12—sesuatu yang sangat langka pada tumbuhan. Dunia kini memujanya, sementara kita sering menganggapnya makanan biasa.

​Kelor (Moringa), Tanaman pagar yang kini dijuluki The Miracle Tree oleh badan kesehatan dunia. Leluhur kita sudah sejak lama menggunakannya untuk nutrisi ibu menyusui dan penguat daya tahan tubuh.

​Rimpang-rimpangan, Jahe, kunyit, kencur. Ini bukan sekadar bumbu, tapi farmakologi alami. Kurkumin dalam kunyit adalah anti-inflamasi tingkat tinggi yang kini sedang diteliti dunia medis untuk melawan kanker.

​Refleksi Keseimbangan

​Ada ironi sosiologis hari ini. Teri dicap “makanan susah”, padahal ia adalah solusi protein rendah jejak karbon (low carbon footprint) yang sedang dicari-cari manusia modern untuk menyelamatkan bumi. Stigma bahwa ia memicu darah tinggi atau asam urat sebenarnya hanyalah teguran agar kita kembali pada prinsip mindful eating—makan secukupnya, bergerak sebanyaknya.

​Orang tua kita dulu tak kenal “suplemen kalsium” botolan, tapi tulang mereka tangguh hingga usia senja. Rahasianya? Mereka mengonsumsi whole food (makanan utuh) yang selaras dengan alam.

Mari Pulang Kedapur Nusantara

​Ikan teri, tempe, dan rimpang mengingatkan kita pada satu esensi: kesehatan sejati tidak harus mahal. Kita adalah bangsa yang berdiri di atas tanah yang sangat subur dan laut yang sangat kaya.

Maka, setelah membaca ini, masihkah kita tega membiarkan toples teri di sudut dapur itu kesepian? Masihkah kita merasa “kurang bergizi” hanya karena meja makan kita tidak dipenuhi label-label impor yang mahal?

​Sangat berdosa rasanya jika kita terus-menerus memuja produk laboratorium asing, sementara di depan mata kita, Tuhan telah menitipkan keajaiban kalsium dan kecerdasan leluhur dalam wujud sebutir teri yang bersahaja. Menolak teri bukan sekadar menolak makanan, tapi menolak warisan kesehatan yang telah teruji ribuan tahun oleh kerasnya tulang dan tajamnya pikir nenek moyang kita.

​Jangan tunggu esok. Hari ini, ambillah sejumput teri, nikmati renyahnya sejarah yang menyatu dengan nasi hangat, dan rasakan bagaimana sel-sel tubuhmu berterima kasih karena akhirnya kau memberinya “hak” yang seharusnya: Kedaulatan pangan sejati.

​Sebab, sehat itu sederhana, dan kecerdasan itu ada di dekat kita. Mari makan teri, dan mari menjadi Indonesia yang bangga.

​Sudah saatnya kita berhenti merasa minder dengan makanan kita sendiri. Rahasia umur panjang dan kecerdasan bangsa sebenarnya tidak tersimpan di rak swalayan mewah, melainkan tersimpan rapi di dalam toples sederhana di dapur kita. Ia menunggu untuk kita pahami kembali, bukan sekadar sebagai teman nasi, melainkan sebagai bukti bahwa leluhur kita telah mewariskan “kedaulatan” dalam setiap butir nasi dan ikan yang kita santap.

​Mari kita habiskan kopi ini, lalu mari kita syukuri apa yang ada di atas piring kita. Sebab di sana, ada doa dan kecerdasan ribuan tahun yang tak akan luntur oleh zaman.( Opini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *